Pecah Ban!

Caruban, 21 Mei 2011

Pagi hari, berangkat ke Ponorogo, untuk menengok nenek yang sakit keras. Sorenya kami langsung pulang, mampir alun-alun Ponorogo sebentar sekedar untuk menikmati semangkuk es dawet Ponorogo. Hanya semangkuk, perjalanan langsung dikebut untuk segera pulang.

Mampir minum dawet
– Mampir minum es dawet di seberang alun-alun Ponorogo. Latar belakang adalah alun-alun Kota Ponorogo.

Di ruas Antara Ponorogo – Madiun, jalanan lumayan oke saja sebenarnya. Meski tak terlalu mulus sebagaimana karakter hotmix. Ada satu bidang yang tampak ditambal secara serius, sampe pakai roller (sepur tumbuk). Selebihnya, kami banyak terkena ranjau darat alias lubang tajam dan dalam yang hadir secara tiba-tiba tanpa terdeteksi mata.

Seingat kami ada 3 (tiga) kali ranjau darat yang membuat shock sampe terpukul tajam, “Dhuaggg!” Demikian suaranya…

Melewati (pinggir) kota Madiun, keluar Madiun kami langsung tancap gas lagi. Berhubung aspal ruas Madiun – Caruban lumayan mulus hotmixnya… Jarum speedo rata-rata berada di titik jam 11-12. (Ummm, kalo di speedonya badak itu 140 kmh pas. Hehehehe…)

Hingga tiba-tiba, posisi masih di ruas Madiun-Caruban, dari kolong mobil terdengar seperti suara ember plastik yang nyangkut dan keseret di kolong mobil. Kami sudah lemes aja, jangan-jangan ada bagian bawah yang terlepas gitu… 😦

Kenapa kami mikirnya ada bagian bawah yang terlepas, oale mobil nggak oleng sama sekali, nggak limbung (justru agak limbung kalo kami rem, berhubung kaki-kaki yang nggak sempurna: join baru kami repairing dan masih ada satu bushing kiri yang sowak karetnya dan blo terganti). Makanya kami “nuduh” ada parts yg lepas dan entah apa. Karena memang jalanan mulus-bersih.

Sejak suara tiba-tiba terdengar, kami nggak ngerem mendadak. Cuman langsung pelankan kecepatan, dan baru ngerem pasti namun teratur, sebagaimana kita kelewatan mau belok habis berkecepatan tinggi.

Saat sudah meminggirkan mobil dan keluar…

Innalillahi… Masya Allah… Astagfirullah…. Ban belakang pecah!!!

Ban pecah!
– Ban pecah pada kecepatan 140kmh, mobil ndhak oleng sama sekali! Masya Allah…

Masya Allah, Subhanallah… Allahu Akbar… Alhamdulillah… Thank God its BMW! Ban segitu gitunya, mobil relatif nggak limbung sama sekali!!! Utinya ALeef aja sampe heran. “Iya. mobil koq kayak bukan seperti pecah ban… Gak ada goyangnya…”

Pfuf… Ngeban deh ^_^

*All photos only taken by Nokia 3500

—————————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/

Advertisements

Bimmer Beach Party

Setelah ikut teman-teman Blitarian masang Jumat malam dan langsung upload jam 2 dini hari tersebut, Sabtu pagi jam 7 kami berangkat (lagi) jemput kawans bimmerfan Tuner Surabaya di Jombang, untuk selanjutnya memandu kawan-kawan ke arah Pare melewati jalanan pedesaan menuju Wates hingga Blitar.

Tiba di Blitar dan berkumpul dengan kawans bimmerfan Blitar, kemudian rombongan besar ini berbarengan menuju arah Tulungagung – Durenan – Bandung – Prigi. Berangkat jam 2, jam 4 sore kami tiba di TKP.


– Juragan


Sedang melihat teman-teman sebayanya (TK) yang lagi pawai, di Jombang


– Menembus kepadatan lalu-lintas.


– Sepi.


– Bersama Bu Caesar.


Freema jr. bersama Caesar jr.


– Ibu-ibu Blitarian. Ada Om Ferries yang nyelip 😀


– Regrouping.


– Jalanan menuju pantai Prigi, Trenggalek.

MELIHAT pantai, anak-anak kecil langsung tak sabar untuk main pasir dan air… Sementara yang lain menikmati ‘welcome drink’ berupa es kelapa muda nan segar dan nikmat…

Sempat ada satu tragedi kecil saat kami sampai. Saat melibas jalanan pegunungan, yang sebenarnya overall mulus ber-hotmix namun dengan sedikit/beberapa aspal yang berlobang dan rusak, ban E46 bro Farid dari Surabaya pecah. Maklum, velgnya luar biasa gedhe sehingga jatuhnya profil (lebar dinding samping ban) tipis. Ban demikian memang maknyusnyusnyus jika buat ngetrek di jalan raya, namun sangat riskan untuk pemakaian di jalur pegunungan yang penuh tanjakan atau aspal yang rusak. Terpaksa, sore itu beberapa kawan tampak sibuk membantu bro Farid mengganti bannya.

TRAGEDI SI BIRU NGGELUNDHUNG

Tragedi kecil tersebut belum berakhir. Pagi hari, mobil Om Yudith yang juga dari Surabaya ke-lock. Kunci tertinggal di dalam, dan pintu tertutup semua sementara semua penumpangnya sedang di luar. Pada kondisi demikian, central-lock pada beberapa detik akan mengaktifkan diri dan mengunci diri/pintu.

Alhasil, semua bergotong royong mencoba membukanya. Menurut record kisah, saat turing ke Bukit Dayu beberapa waktu lampau, pintu ini juga sempat ter-auto lock. Saat itu, alhasil kaca kecil di pintu belakanglah akhirnya dipecah!

Namun kali ini mekanik dan beberapa bimmerfan mencoba cara lain. Dengan menelisipkan kawat di frame kaca yang sedikit ditarik paksa.

Para BMW itu parkir berderat di perpakiran mobil yang disediakan pengelola tempat pariwisata Pantai Pasir Putih, Prigi. Parkiran itu berada di depan deretan rumah makan/toko suvenir. Di depan parkiran adalah jalan raya, baru kemudian area pantai. Antara jalanan dengan area pantai ini dibatasi oleh tanggul setinggi sekitar 20 cm dari aspal. Tanggul kecil ini menjadi semacam pembatas yang memisahkannya…

Kurang lebih gambarannya ini
– Ini si biru kondisi parkir, posisi miring/menunduk… di depannya jalanan, dan di ujung pinggir jalan itu portal 20an cm yang dia buat jumping dan nyanggrok…

Area parkir mobil ini lumayan tinggi, sehingga miring pada ujungnya yang berhadapan langsung dengan jalanan.

Kebetulan, para BMW ini berparkir menghadap jalan semua, dan hidung mobil semua sedikit diturunkan di landasan yang miring, sehingga seperti menghormat ke arah jalanan.

Semua terparkir rapi, dan well, semua pun setelahnya berlarut dalam kegembiraan. Malam menjelang, pesta ikan tuna bakar telah disiapkan oleh tim catering yang telah dikontrak panitia. Sambil makan malam, acara diiringi dengan organ tunggal sampai jam 10-an.

Kemudian acara adalah berlayar ke pulau kapuk alias tidur 😀 Para Bapak beberapa tampak berjaga sambil ngopi dan ngobrol sampai subuh…

Pagi hari, semua keluarga tampak sibuk dengan urusan mandi dan lain-lain. Pun dengan kami. Saat ibunya AleefRahman berdiri di samping jok belakang (dengan pintu terbuka) untuk mempersiapkan perlengkapan ganti baju AleefRahman, AleefRahman tampak asyik bermain di jok depan, di jok pengemudi. Dia bergaya nyopir dengan memutar-mutar setir (meski putarannya sangat sedikit/hampir gk bisa diputar karena stir dalam kondisi ter-lock).

Karena kakinya tak nyampe pedal gas/rem, tangannyalah yang asyik bermain. Dia pura-pura mengoper-oper persneling, seperti saat Bapaknya menarik tuas dari P (Parking) ke D (Drive) atau posisi lain saat mobil dijalankan/dimundurkan.

Nah, dari asyiknya main ini, sepertinya dia sempat juga memainkan hand-brake. Hingga pada satu detik di mana ada komposisi perseneling dia tarik ke posisi D dan handbrake dia lepaskan dari kuncian; dan dengan posisi mobil yang menunduk ke depan sesuai kontur landasan parkir yang menurun; alhasil..

.. si biru meluncur tajam; menggelinding alias nggelundhung melaju ke depan!

Semua mata yang melihat tentu tegang. Sebab, selain ada portal setinggi 20-an cm di seberang jalan yang memisahkan antara jalanan dan pantai tadi, tepat di depan mobil, pada posisi sisi jalan yang sebelah seberang ada tukang es krim yang usai melayani pembeli!

Untungnya, dalam kondisi mesin motor yang mati, si Mas tukang es krim sigap! Dia langsung mendayung sekuat tenaga motornya maju ke depan menghndari ditabrak oleh si biru!

Tepat sebelum si biru menyentuhnya, si Mas tukang eskrim berhasil menghindar!

Si biru terus melanjutkan luncurannya… Ibunya AleefRahman berteriak refleks sambil mengejar dan mencoba meraih hand-brake… Tampak di pantai, beberapa keluarga dan satu tukang bakso (?) yang posisi mereka tepat di arah luncuran si biru tampak kalang kabut menghindari bahaya… Itu rombong bakso ditinggal begitu saja sama si pemiliknya…

Hand-brake sih sempat tertarik, namun semuanya terlambat.. Si biru sudah menerjang portal, jumping sedikit, dan akhirnya bagian dek bawah nyangkut di portal dengan roda depan sudah melewati itu portal 😦

Kondisi tegang sementara…

Bapaknya AleefRahman yang saat itu berada di kumpulan bimer yang turut membuka pintu baru sampai larinya… Dalam kondisi si biru yang sudah berhenti karena tersandung portal itu…

AleefRahman langsung diangkat Ibunya. Sebelumnya, dia terlihat takut sebenarnya. AleefRahman dalam posisi melungker dan miring bersadar jok saat dia diangkat…

SYUKUR ALHAMDULILLAH

Semua yang ada langsung mengerubung si biru. Tampaknya semua sigap, langsung berteriak, “Kami angkat ramai-ramai Mas!”

Bapaknya Aleef mengganjal roda dengan batu, mencoba membuat semacam tangga agar roda bisa menggelinding halus naik ke portal dan kembali ke aspal. Dia bilang ke orang-orang, mau bantu dengan mundur dengan menyalakan mesin.

Tapi orang-orang yang ada justru mencegahnya dan bilang cukup di angkat saja…

Jadilah dia ngalah, dan beberapa orang tampak mengambil posisi di depan hood untuk kemudian mengangkat mobil. Holobis kuntul baris, si biru berhasil di selamatkan…

Mesin mencoba dinyalakan, dan nyala! Di gas tinggi, tak ada perubahan suara yang berarti… Tampaknya mesin selamat…

Masih dengan tegang, transmisi coba dimasukkan. Bisa masuk. Posisi R, mobil bisa dimundurkan dengan sempurna.

Setelah bagian bawah di cek, tak ada yang rusak sama sekali!

Allahu Akbar, Alhamdulillah, Puji Syukur Tuhan…!

Hanya ada satu plastik menutup dek bawah yang lepas dan sedikit pecah. Plastik ini berfungsi untuk menutup pengaitnya dek bawah. Sementara dek bawah adalah fiber merata yang berfungsi melindungi bagian bawah mesin. Sehingga jika di lihat, di bagian bawah ini mesin menjadi tampak serasa rata…

Beberapa bimmerfan yang penasaran juga ikut memeriksa.. Mereka semua juga heran… Tanpa bermaksud apa-apa, semuanya bersyukur bahwa ini BMW. kualitas material dan kepresisian rancang bangunnya telah menyelamatkan si biru dari kerusakan yang tragis.. Apalagi mengingat bahwa si biru ini sedan, yang memiliki ground-clearance rendah, hanya sekitar 15cm saja… 😦

Usai memundurkan si biru, sejurus kemudian E34 putih Om Yudith juga berhasil ditarik tuas kunci pintunya… Terbukalah juga pintu mobil beliau..

Alhamdulillah ya Allah…

Di tempat aman, Aleef malah dikerubungi para bapak sesepuh club. Dia digojlok habis-habisan.

“Kamu pingin nyetir ya, Dik? Mestinya tadi setirnya kamu belokkan gini (sambil mutar tangan) gitu…” Goda seorang sesepuh 😀

Dan kemudian dari pengeras suara ada pengumuman, peserta turing BMW ini dipersilakan sarapan…

***

USAI sarapan, acara adalah berlayar. Panitia telah menyewa perahu untuk peserta berlayar menyusuri yeluk. Melihat dari dekat pulau-pulau yang ada di kejauhan.

Kebetulan, telah 10 di teluk tersebut ada kapal buang sauh. Kapal ini menurut penduduk setempat adalah kapal batubara. Dia bongkar muatan agak jauh di pantai, dan muatan diambil dengan kapal tongkang yang lebih kecil, bolak-balik dari kapal ke pantai… Entah untuk apa batubara ini, mungkin untuk bahan bakar industri yang ada di daratan.

Usai berlayar, hari semakin siang, panitia memutuskan memangkas acara game dan membongkar tenda lebih cepat dari jadwal.

Bukan karena apa, kebetulan saat itu long-weekend, pantai tiba-tiba kedatangan pengunjung luar biasa banyak. Parkiran pun sampai kepenuhan dan banyak yang memarkir kendaraan atau bus pariwisata medium ke sepanjang pinggir jalan.


– “Mobil keluarga”. Mobilnya Geva 😀


– Pantai Pasir Putih, Prigi, Trenggalek di pagi hari.


– Kapal yang lagi buang sauh… Saat malam, dia hanya terlihat lampu-lampunya yang indah.. Seperti anjungan lepas pantai gitu…

Briefing dan closing sebentar dan diikuti dengan doa penutup oleh Pak Mahmud, sesepuh klub, akhirnya kami semua kembali beriringan menuju Tulungagung.

Dari Tulungagung, rombongan Surabaya dan Blitar saling bersalaman dan berpisah.

Dalam perjalanannya kembali ke Blitar, rombongan Blitar sempat mampir makan siang yang tertunda di sebuah lesehan yang ditemukan.


– Ini yang moto AleefRahman 😀

Alhamdulillah, semua kembali tiba di rumah dalam kondisi lancar dan selamat.

Terima kasih Tuhan, Alhamdulillah, Thanx God…

_/\_

– Both Deasy & Freema,
Love you all always.

(Bimmer The Series) Memilih Mobil Pertama Kita

*Aka. Memilih BMW Pt. II, melanjutkan catatan “Memilih BMW Pt. I” dari sini https://freemindcoffee.wordpress.com/2014/08/14/memilih-bmw/

“Perkara penggerak roda belakang, terangkan aja ke suamiku. Aku nggak seberapa paham bedanya. Aku cuma advice di tampang. Dan bukannya BMW pajaknya lebih mahal?”

-PM Seorang temen, yg kebetulan seorang ibu rumah tengga sekaligus wanita karier yg baik, yg mana ia dan suaminya keduanya adalah teman saya sekaligus-

Demikian ungkap seorang teman, seorang Ibu; yg lagi mencari kereta seken terjangkau untuk membawa anggota keluarganya: kedua buah hati mereka yg lucu dan menggemaskan, dalam diskusi kami di sini http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=213205925364513&id=641283286

BMW memang lebih mahal pajaknya ketimbang mobil Jepang selevel (Eg. Cielo, yg levelnya masuk BMW seri 5); soale pajak kan diitung dari persentase harga barunya itu mobil… Sementara dari barunya memang njomplang jauh..

Bandingannya sekarang, Accord mesin 2400cc harganya 400an jt, BMW 523i (dibaca seri “5” dengan “23”00cc) harganya 800-an. Atau Accord 3500cc harganya 700an, BMW dg mesin selevel: 535i (dibaca seri “5” dengan “35”00cc) harganya 1,3 M! Selisihnya maknyusss banget itu.

Dari sini jadinya pajak BMW lebih mahal…Tapi meskipun mahal untuk barunya, pajak BMW usia 15an tahun gini Insya Allah sudah terjangkau koq untuk rata-rata kantong kita.

Berapa pajaknya? Setara duit yg dibakar orang tolol dalambentuk rokok selama setahun!!! Nah tuh… 😀

Tapi kenapa harga baru BMW sampe njomplang sebegitu jauh?

Yg pertama memang dari pajak masuknya. BMW diproduksi (secara pretelan maupun utuh) semua dari Jerman or Afrika Selatan or Cina (or Amerika sendiri untuk pasar Amerika), di pabrikan langsung punya BMW (untuk BMW tua-tua tahun 90an gitu produksinya yg masuk ke sini masih dari Jerman semua); baru kemudian dirakit (CKD) di Indonesia.

Karena masih impor, dlm komponen harga jual BMW tentu termasuk ongkos impornya juga. Yah, jadinya memang tinggi sekali 😀

Sementara Honda sudah punya pabrik langsung di Indonesia. Banyak komponennya sudah buatan Indonesia. Yg mana artinya ongkos produksinya bisa ditekan. Jadinya harga jualnya rendah sekali. So pajaknya ikut murah. Sekalipun beberpaa model tidak dirakit di Indonesia (bia Thailand kebanyakan untukmobil Jepang yg dijualuntuk pasar Asean), tetap saja ini dekat (dan ada AFTA plus perjanjian pengurangan pajak antara Indonesia dg Jepang).

Tapi selain masalah biaya impor, memang kualitas komponennya -tanpa bermaksud merendahkan merk lain sama sekali- memang beda…

Kalo joknya BMW kita sobek, bahan “kulit”-nya itu tebelnya mita ampun. Aku pernah bandingkan langsung dengan bahan jok mobil Jepang. Juauhhh bedanya!

Mirip kulitku yg badak dengan kulit Deasy yg lembut gitulah *halahhh* .. 😀 Tapi beneran, emang gini… Perbandingannya mungkin bisa 1:3 sampe 1:6 tentang ketebalannya.

Belum lagi plat bodinya.

Gampangnya, kalo di parkiran kantormu ada BMW, coba ketuk bodinya. Bunyinya akan duk-duk-duk.. kerasa platnya tebal.

Plat bodi yg tebal ini fungsinya untuk kemananan (kalo terjadi tabrakan ringan-sedang). Selain itu, karena plat bodinya tebal, otomatis kendaraan jadi lebih berat. Bobot kendaraan yg berat ini justru akan membuat kendaraan stabil/anteng; nggaklimbung/ngleyang gitu…

Memang ini harus dibayar dengan konsumsi bensin yg sedikit lebih boros. Tapi seboros-borosnya, umpama dibandingkan, perkiraanku siy bawa Cielo vs BMW dari Malang ke Jember paling selisih bensinnya cuma 50r-ban… Worth aja kan? Dan ingat, konsumsi bensin yg cuma sedikit lebih banyak itu adalah harga yg kita dapatkan untuk memperoleh keselamatan dan kenyamanan lebih.

Bandingkan dengan mobil Jepang. Plat bodinya kalo diketuk bunyinya deng-deng-deng.. Jelas kan, cuma berapa tebal plat bodinya? 😀

Waktu ngetuk bodi BMW, tenang aja, BMW nggak bisa dikasih alarm yg mbengok-bengok gitu.. Kalo dimaling, komputer BMW akan membunuh dirinya sendiri sehingga mobil gak akan bisa diapa-apakan, apalagi dibawa lari. Kecuali emang malingnya bawa mobil derek, dan mobil dereknya bisa lari sekencang Ferari 😀

Beda dengan mayoritas mobil Jepang. Alarmnya suka teriak-teriak. Meskipun kencang teriakannya, maling masih akan sempat melarikan itu mobil. Atau mungkin maling akan membungkam teriakan alarm terlebih dahulu, dan tinggal santai melenggang kangkung.

Kami dulu pas beli, cara kami milih adalah menetapkan dulu apa kebutuhan kami, bukan merk mobilnya duluan.

Yakni mobil yg memang harus tahan banting; mesinnya awet. Okelah sekali maintenance akan makan biaya lumayan; tapi jangan sampai mobil yg maintenance-nya murah tapi rajiiin banget silaturahmi ke bengkel. Total-costnya jatuhnya sama aja kan jadinya? Malah kita bakal rugi waktu karena mobil lebih cinta sama bengkel ketimbang majikannya. Sakit hati pastinya…

Fisik mobil juga mesti:

  • Kuat dihajar di jalanan: enteng naik tanjakan tajam (dan ini hanya bisa diperoleh oleh mobil berpenggerak roda belakang. Mobil penggerak roda depan akan memble kalo sidah demikian),
  • Harus stabil melibas tikungan penuh kelokan tanpa slip (mobil penggerak roda depan suka nggak presisi kalo dibuat nikung secara ekstrim),
  • Kuat melintas jalan makadam (mobil penggerak roda depan akan cepat rontok kaki-kakinya kalo melibas makadam terus-menerus ketimbang mobil berpenggerak roda belakang), dan
  • Tulang punggung nggak capek kalo jalan jauh nonstop (kenyamaman ini ditentukan oleh rancang bangun suspensinya serta bahan jok yang digunakan. Suspensi mobil canggih akan menjaga mobil lebih nyaman dikendarai; serta bahan plus rancang bangun jok berkualitas akan membuat badan nyaman saat duduk pada perjalanan jauh).

Mobil juga harus tahan dihajar secara fisikal oleh anak kami: buat diinjak-injak kapnya kalo dia mau “main-main” sama mobilnya. Dasboard harus kokoh. Buat antisipasi jikalau si kecil memandang bahwa dalam kabin adalah playgroundnya 😀

Itu intinya. Kemudian, umur mobil (yang berkaitan anatara titik temu angka pajak dan cost perawatan rata-rata) harus sesuai dg kantong kami.

Jadilah setelah corat-coret sana-sini, kami memutuskan membeli BMW usia 15-an tahun. Kalo nggak kuat ke bengkel resmi, bengkel independen plus suku cadang aftermarketnya lumayan melimpah. Artinya, meski umurnya 15 tahun, mobil ini supportable sekali…

Jadi demikian alurnya… Tentukan rekuiremen, baru tentukan kendaraannya. Jangan kebalik 😀

CMIIW & IMHO

Freema H. Widiasena,
repost: catatan ini pernah saya tulis pada tahun 2011.

#Untuk seorang adik dan semua kawan yg mungkin baru mapan rizkinya dan sedang mencari mobil pertama untuk keluarga, by Freema HW, in lovely-supported by Deasy & AleefRahman.

#Untuk catatan”Memilih BMW” sebelumnya silakan simak dulu di sini https://freemindcoffee.wordpress.com/2014/08/14/memilih-bmw/Di catatan pertama tersebut, salah satunya kami terangkan apa bedanya BMW yang berpenggerak roda belakang dengan mobil Jepang yang kebanyakan berpenggerak roda depan.

————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://m.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/

Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/

Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/

Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/

Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/

Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/

Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/