Es krim NOT RECOMMENDED

Sabtu 25 Desember 2010, acara ke Malang buat jemput krucil-krucil sepupunya Aleef Rahman mau diangkut liburan ke Blitar. Berangkat dari Kediri “sedikit ditelatkan”. Bapaknya Aleef mau setor muka sebentar ke acara reuni teman-temannya SMP. Babibu basa-basi sebentar, langsung tancap gas menuju arah ufuk dan matahari terbit.

Masuk Malang (keluar Batu arah ke Malang) macet tiada tara. Maklum, long-weekend dan end-year holiday gitu loch!

Masuk Malang mampir bentar ke Es Krim Oen. Bulik Yiyi-nya Aleef Rahman ngidam sejak dari Jakarta.

Dapatlah kami meja.

***

Menunggu agak lama. Benar-benar lama untuk ukuran toko tua yang super kondang beginian. Sambil menunggu Bapaknya Aleef menyempatkan diri ke toilet sejenak. Berkali-kali kami mengangkat tangan memanggil pelayan. Kami yakin mereka melihat, namun pura-pura tak melihat! Kami haqul yakin ini!

Dan lagi, semua pelayan yang tampak, TAK ADA YG MUKANYA SENYUM ATAU AIR MUKANYA CERIA! SEMUA PELAYAN YANG TAMPAK MUKANYA MUSAM MASAM!!!

Akhirnya saya berdua bibinya Aleef sampe nyamperi mbak kasir. “Mbak, mau minta nota menu ada? Koq lama banget sih mas pelayannya nyamperi?”

“Oh, maaf mbak, kami lagi penuh dan repot banget hari ini!” Jawab mbak kasir sambil sedikit melemparkan kertas menu dan tak tampak sedikit penyesalan.

Sudahlah, kami ngalah saja…

Menu tertulis dan kembali kami berkali-kali mengangkat tangan, kayak orang mau minta sumbangan! Yah, mungkin mereka “terlatih” jika yang dateng gerombolan seperti kami ini, bukan segerombol bule yang menunjuk hampir semua menu. Mungkin mereka “terlatih” jika yang dateng gerombolan seperti kami ini, yang cuma memasukkan segelintir rupiah saja untuk income mereka, bukan memasukkan dollar dengan gesekan kartu kredit.

Tapi, bolehkan bisnis dengan kultur demikian? Kalo nggak sepakat dengan tamu macam kami ya tulis saja di depan: minimal pembelian harus sekian ratus ribu rupiah! Atau, cuman bule dan orang kaya saja yang boleh masuk!

Dijamin karyawan bakal tak perlu lagi capek bekerja, sekaligus tak makan alias puasa selama-lamanya!!!

Mas-mas yang dari tadi pura-pura nggak melihat, meski memang dia lagi sibuk membereskan peralatan peninggalan tamu yang sudah hengkang, datang menghampiri. Sedikit dialog tentang menu terjadi antara kami dan dia.

Sejurus kemudian, empat dari lima pesanan es krim kami datang.

Yang satu, kami tanyakan ke mbak-mbak pelayan. “Mbak menunya kurang satu!”

“Sabar ya Mbak!” jawab si mbak yg kami tanyai dengan KETUS!

Akhirnya, satu menu yang tertinggal DATANG SETELAH MENU LAIN SUDAH SEPARUH JALAN! Trus yang aneh, kalu memang menu terakhir yang terlambat ini lama diraciknya, kenapa sudah datang dalam kondisi melting/meleleh?

Suwer, ini kejadian beneran!

Alhasil kami makan eskrim tanpa kenikmatan sama sekali. Dan es krimnya memang tipikal es puter, bukan es krim super lembut. Jadilah kami makan es krim seperti makan nasi! Sendok cepat-cepat dan habis!

Ya sudahlah. Mau marah juga tiada guna! Kami enjoy aja, sambil menyumpah-serapah dalam hati: mudah-mudahan nggak bakal ke sini lagi!

***


– Bulik Yiyi, Bapaknya AleefRahman, AleefRahman. Pasrah… šŸ˜€

WELL, ini kali kedua kami masuk Toko Oen. Sebelumnya, sekitar sesemester sebelumnya kami juga sempat mencoba, mengantar bulik-utinya Aleef Rahman yang penasaran dengan Toko Oen.

Enakkah yang pada kedatangan kami yang pertama itu? Sama nggaknya!

Hanya waktu itu toko tak terlalu ramai, jadi kami hanya sekitar tiga kali saja mengangkat tangan dan pelayan sudah datang tanpa cepat-cepat. Terlihat seperti jauuh gitu jaraknya…

Satu lagi, tapi sebelumnya Jika Anda sedang makan saat membaca posting ini, mohon selesaikan dulu makan Anda sebelum meneruskan membaca paragraf di bawah.

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

Saat kami datang kali ini, di mobil Bapaknya Aleef baru cerita. Saat ke toilet airnya tak mengalir. Jadi dari toliet laki-laki yang cuma urinoir, dia terpaksa masuk ke tolet wanita yang ada kamar mandi gitu. Semua saluran air mati. Pun westafel. Hanya ada sisa air di ember. Lumayan juga sih. Cuma waktu dia buka kloset duduk dari kondisi tertutup, hoekkkkssss, banyak feces tak tersiram ditambah sobekan-sobekan tissu!

Jadilah dia lari ke meja sambil menahan agar yang lain tak ke toilet. Pada awalnya dia hanya beralasan airnya mati. Mungkin dia tak ingin membuyarkan selera kami makan es krim.

HERAN… kalo toilet itu sedang diperbaiki, kenapa tak ada tulisan toilet rusak di pintu yang tertutup? BENAR-BENAR TAK ADA! Waktu dia bilang ke kami saat masih ada pelayan di dekat kami, si pelayan cuma diam saja tanpa ada sepatah kata maaf!

Mungkin pengalaman kami ini tidak menimpa Anda semua. Mungkin saat Anda yang pernah berkunjung ke sana, semua pelayannya ber-air muka ceria meskipun mereka seharian lelah bekerja. Mungkin saat Anda ke sana dan menyempatkan diri ke belakang, toiletnya sedang bersih wangi dengan air dingin khas Malang.

Berikut beberapa komen dari rekan-rekan fesbuk kami.

Apapun, ternyata dua kali kami ke sana, pengalaman kami nggak ada enaknya sama sekali. Maaf kepada Toko Oen, bila Anda ingin mengklarifikasi hal ini, silakan komen/inbox ke kami biar kami share klarifikasi Anda ke postingan di sini.

– Keluarga Widiasena

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s