Es krim NOT RECOMMENDED

Sabtu 25 Desember 2010, acara ke Malang buat jemput krucil-krucil sepupunya Aleef Rahman mau diangkut liburan ke Blitar. Berangkat dari Kediri “sedikit ditelatkan”. Bapaknya Aleef mau setor muka sebentar ke acara reuni teman-temannya SMP. Babibu basa-basi sebentar, langsung tancap gas menuju arah ufuk dan matahari terbit.

Masuk Malang (keluar Batu arah ke Malang) macet tiada tara. Maklum, long-weekend dan end-year holiday gitu loch!

Masuk Malang mampir bentar ke Es Krim Oen. Bulik Yiyi-nya Aleef Rahman ngidam sejak dari Jakarta.

Dapatlah kami meja.

***

Menunggu agak lama. Benar-benar lama untuk ukuran toko tua yang super kondang beginian. Sambil menunggu Bapaknya Aleef menyempatkan diri ke toilet sejenak. Berkali-kali kami mengangkat tangan memanggil pelayan. Kami yakin mereka melihat, namun pura-pura tak melihat! Kami haqul yakin ini!

Dan lagi, semua pelayan yang tampak, TAK ADA YG MUKANYA SENYUM ATAU AIR MUKANYA CERIA! SEMUA PELAYAN YANG TAMPAK MUKANYA MUSAM MASAM!!!

Akhirnya saya berdua bibinya Aleef sampe nyamperi mbak kasir. “Mbak, mau minta nota menu ada? Koq lama banget sih mas pelayannya nyamperi?”

“Oh, maaf mbak, kami lagi penuh dan repot banget hari ini!” Jawab mbak kasir sambil sedikit melemparkan kertas menu dan tak tampak sedikit penyesalan.

Sudahlah, kami ngalah saja…

Menu tertulis dan kembali kami berkali-kali mengangkat tangan, kayak orang mau minta sumbangan! Yah, mungkin mereka “terlatih” jika yang dateng gerombolan seperti kami ini, bukan segerombol bule yang menunjuk hampir semua menu. Mungkin mereka “terlatih” jika yang dateng gerombolan seperti kami ini, yang cuma memasukkan segelintir rupiah saja untuk income mereka, bukan memasukkan dollar dengan gesekan kartu kredit.

Tapi, bolehkan bisnis dengan kultur demikian? Kalo nggak sepakat dengan tamu macam kami ya tulis saja di depan: minimal pembelian harus sekian ratus ribu rupiah! Atau, cuman bule dan orang kaya saja yang boleh masuk!

Dijamin karyawan bakal tak perlu lagi capek bekerja, sekaligus tak makan alias puasa selama-lamanya!!!

Mas-mas yang dari tadi pura-pura nggak melihat, meski memang dia lagi sibuk membereskan peralatan peninggalan tamu yang sudah hengkang, datang menghampiri. Sedikit dialog tentang menu terjadi antara kami dan dia.

Sejurus kemudian, empat dari lima pesanan es krim kami datang.

Yang satu, kami tanyakan ke mbak-mbak pelayan. “Mbak menunya kurang satu!”

“Sabar ya Mbak!” jawab si mbak yg kami tanyai dengan KETUS!

Akhirnya, satu menu yang tertinggal DATANG SETELAH MENU LAIN SUDAH SEPARUH JALAN! Trus yang aneh, kalu memang menu terakhir yang terlambat ini lama diraciknya, kenapa sudah datang dalam kondisi melting/meleleh?

Suwer, ini kejadian beneran!

Alhasil kami makan eskrim tanpa kenikmatan sama sekali. Dan es krimnya memang tipikal es puter, bukan es krim super lembut. Jadilah kami makan es krim seperti makan nasi! Sendok cepat-cepat dan habis!

Ya sudahlah. Mau marah juga tiada guna! Kami enjoy aja, sambil menyumpah-serapah dalam hati: mudah-mudahan nggak bakal ke sini lagi!

***


– Bulik Yiyi, Bapaknya AleefRahman, AleefRahman. Pasrah… 😀

WELL, ini kali kedua kami masuk Toko Oen. Sebelumnya, sekitar sesemester sebelumnya kami juga sempat mencoba, mengantar bulik-utinya Aleef Rahman yang penasaran dengan Toko Oen.

Enakkah yang pada kedatangan kami yang pertama itu? Sama nggaknya!

Hanya waktu itu toko tak terlalu ramai, jadi kami hanya sekitar tiga kali saja mengangkat tangan dan pelayan sudah datang tanpa cepat-cepat. Terlihat seperti jauuh gitu jaraknya…

Satu lagi, tapi sebelumnya Jika Anda sedang makan saat membaca posting ini, mohon selesaikan dulu makan Anda sebelum meneruskan membaca paragraf di bawah.

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

Saat kami datang kali ini, di mobil Bapaknya Aleef baru cerita. Saat ke toilet airnya tak mengalir. Jadi dari toliet laki-laki yang cuma urinoir, dia terpaksa masuk ke tolet wanita yang ada kamar mandi gitu. Semua saluran air mati. Pun westafel. Hanya ada sisa air di ember. Lumayan juga sih. Cuma waktu dia buka kloset duduk dari kondisi tertutup, hoekkkkssss, banyak feces tak tersiram ditambah sobekan-sobekan tissu!

Jadilah dia lari ke meja sambil menahan agar yang lain tak ke toilet. Pada awalnya dia hanya beralasan airnya mati. Mungkin dia tak ingin membuyarkan selera kami makan es krim.

HERAN… kalo toilet itu sedang diperbaiki, kenapa tak ada tulisan toilet rusak di pintu yang tertutup? BENAR-BENAR TAK ADA! Waktu dia bilang ke kami saat masih ada pelayan di dekat kami, si pelayan cuma diam saja tanpa ada sepatah kata maaf!

Mungkin pengalaman kami ini tidak menimpa Anda semua. Mungkin saat Anda yang pernah berkunjung ke sana, semua pelayannya ber-air muka ceria meskipun mereka seharian lelah bekerja. Mungkin saat Anda ke sana dan menyempatkan diri ke belakang, toiletnya sedang bersih wangi dengan air dingin khas Malang.

Berikut beberapa komen dari rekan-rekan fesbuk kami.

Apapun, ternyata dua kali kami ke sana, pengalaman kami nggak ada enaknya sama sekali. Maaf kepada Toko Oen, bila Anda ingin mengklarifikasi hal ini, silakan komen/inbox ke kami biar kami share klarifikasi Anda ke postingan di sini.

– Keluarga Widiasena

Advertisements

(Bimmer The Series) Bengkel Mobil Aneh

BMW E34

[Aka. Memilih BMW Pt. VIII]

Biarpun naik BMW, kami ini kéré. Biarpun kéré, yg penting kami naik BMW :)) Sebuah anomali kisah kéré tentang bé-èmwé 😀

Kami, mungkin seperti kebanyakan atau beberapa orang di Jatim, khususnya yang di luar Surabaya ato Malang, memelihara “mobil aneh-aneh” adalah seni tersendiri. Seninya adalah “susahnya” mencari bengkel pendukung yang bisa menangani perbaikan dan/atau perawatan rutin kendaraan kita.

Mobil aneh di sini tidak kami deskripsikan secara jelas. Asal dia tak umum menurut situasi dan kondisi: lokasi geografis, minornya populasi kendaraan & komunitas pemakai, dan itu tadi-bengkel pendukung yang bisa menangani, mungkin ini saja dulu yang bisa dijadikan patokan sebagai mobil aneh. Bisa jadi itu mobil tua, bisa jadi itu sebuah Hummer atau Roll-Royce pun Bentley terbaru. Kebanyakan “mobil aneh” beginian memang mobil yang bukan mobil (buatan) Jepang yang sudah berumur retro, atau sekitar 15 tahunan dan lebih tua.

Untuk memudahkan dan menyenangkan pengendaranya, mobil non-Jepang memang banyak menyematkan teknologi super canggih pada zamannya. Sensor-sensor dijejalkan ke berbagai sudut sehingga membuat otak montir kelas kampungan menjadi berantakan saat menanganinya. Bayangkan, seperti BMW kami yang sudah berumur 15 tahun dan terus bertambah, di bawah pedal akselerator (gas)-nya saja ada kabel yang entah apa fungsinya. Tebakan kami sih untuk sensor akselerasi. Di mana komputer akan membaca apakah si pengemudi sedang menjalankan mobil secara santai atau mendadak/membejek gas secara konstan.

Bila komputer membaca bahwa si pengemudi sedang santai menjalankan kendaraan, mungkin dengan sensor yang membaca akselerasi gas secara pelan, komputer akan memerintahkan pergantian gigi transmisi secara smooth, cukup pada RPM rendah gigi transmisi sudah berpindah ke level yang lebih tinggi dan pasokan bahan bakar dihemat saja. Jadilah mesin hanya mendehem lembut dan mobil meluncur halus.

Sebaliknya, bila komputer membaca bahwa si pengemudi sedang melarikan mobil secara tergesa, mungkin dengan (membaca) pergerakan akselerator yang super cepat atau thortle-body yang langsung mangap atau entah bagaimana, komputer akan memerintahkan pergantian gigi transmisi pada RPM yang lebih tinggi dan memerintahkan suplai bahan bakar lebih banyak lagi. Jadilah mesin meraung ganas dan mobil menghentak kuat.

Namun komputer tetaplah komputer. Ada pilihan eksekusi yang diserahkan ke pengendara, sebagai makhluk penguasa kendaraan yang sedang di kendarainya. Di transmisi kami ada pilihan mode sport (pada beberapa merk di-opsikan sebagai over-drive) di samping mode Adaptive (normal). Pada mode sport, RPM pergantian gigi dua kali lipat lebih tinggi. Jadilah mesin meraung lebih ganas, badan serasa terhempas ke belakang dan melekat pada jok/sandaran punggung, dan tentunya… bensin seperti pipis-bocor untuk menjamin akselerasi! 😀

Ini belum puluhan bahkan mungkin ratusan sensor lain, semacam sensor ABS (anti-lock brake system, sistem rem anti mengunci yang mana rem akan menjepit cakram berulang kali sebanyak 60kali jepitan dalam satu detik!) yang mencegah slip dan memungkinkan mobil direm secara halus dalam kondisi berbelok-belok di jalanan licin; sensor oli; air radiator; sensor kadar CO2; sensor kendali udara yang mengatur langsam-nya putaran mesin; bahkan jika ada satu bola lampu yang mati sensor pun menyalakan lampu indikatornya. Ada juga sensor air wiper yang habis, dan beragam sensor esensial lainnya. Semua sensor ini berhubungan sekali dengan kinerja mesin.kendaraan secara pokok, bukan semacam aksesoris kenyamanan penumpang belaka.

Di berbagai kendaraan lain akan beragam lagi teknologinya, tergantung level kendaraan. Biasanya untuk kendaraan dengan level semakin atas, akan semakin berjibun teknologi “opsional”-nya. Semacam self-leveling suspension, yang bisa mengatur ketinggian/menaik-turunkan suspensi sesuai beban penumpang yang diangkut kendaraan sehingga kendaraan tetap stabil, mungkin juga sensor hujan yang menggerakkan wiper secara otomatis ketika hujan/gerimis turun, mungkin sensor self-levelizer headlamp, yang mengatur ketinggian sorotan lampu depan sesuai beban penumpang yang naik, sehingga lampu tidak akan terlalu mendongak dan menyilaukan/membahayakan keselataman pengemudi dari arah depan, dll.

Semua teknologi ini difungsikan untuk menjamin keselamatan penumpang kendaraan dan pengendara lain di jalanan.

Fungsi manusia sebenarnya tak tergantikan oleh perangkat artifisial ini. Semua perangkat ini memang seolah “mengganti” tugas manusia dalam mem-precheck kendaraanya sebelum dijalankan. Tapi sebenarnya tidak. Routine-maintenance tetap mutlak dilakukan. Setidaknya untuk menjamin sensor-sensor tersebut lancar bekerja.

Di sinilah masalahnya. Bahkan untuk beberapa tipe pre-check yang bisa dilakukan dengan teknologi sederhana (umumnya mobil Jepang), pada kendaraan aneh-aneh pun susah dilakukan. Contoh sederhana tentang mengisi air radiator. Pada beberapa tipe mobil aneh, misalnya BMW, Peugeot, dll. sistem pengisian air radiator menggunakan bleeding-valve yang berfungsi untuk membuang udara yang terperangkap di dalam sistem radiator. Salah menangani pengisian radiator dengan sistem ini, seperti kisah nyata yang benar-benar terjadi, mesin bisa overheat dan bahkan ada kejadian blok mesin sampai retak!

Beda total dengan mobil Jepang sekelas pada zamannya. Air radiator kurang? Tinggal isi saja langsung tanpa ba-bi-bu. Asal tidak sedang dalam kondisi panas saja. Pun pakai air PAM tercampur kaporit juga ayo saja!

Gap/jenjang-jarak teknologi yang sedemikian lebarnya ini yang membuat “mobil-mobil aneh” tersebut tentunya diproduksi dengan biaya lebih. Orang akhirnya hanya tahu mengatakan ini mahal. Padahal, mahal itu jika ada barang sama dengan harga berbeda/lebih tinggi. Namun jika teknologi tersebut tujuh kali lipat lebih maju/canggih/berguna dengan harga yang hanya tiga-lima kali lipat dari barang selevel, yang mana mahalnya?

Hanya memang urusan angka (harga) ini kadang berposisi absolute. Banyak orang menyadari bahwa perbedaan harga tersebut memang dikarenakan perbedaan spesifikasi. Namun mau gimana, orang adanya duit cuma segini… Di sinilah hukum pasar berlaku. Jepang akhirnya kemudian membuat mobil dengan teknologi lebih sederhana dan pengurangan beberapa spesifikasi untuk kendaraan produksi mereka agar lebih terjangkau.

Umpamakan kendaraan kelas compact sedan, mid-size sedan, dan luxurious-sedan. Pada kelas/level/fungsi/jenis yang sama ini, Jepang mengurangi banyak spesifikasinya. Teknolgi dibikin lebih sederhana. Sensor-sensor yang terlalu memusingkan otak awam dibuang dan “diperintahkan” ke pengemudinya untuk mengambil alih fungsi/tugas ratusan sensor komputer dan bersusah payah menjadi robot yang terus-terusan harus memperhatikan kendaraannya.

Bodi kendaraan (Eropa) yang tebal, yang sedikit-banyak lebih menjamin keselamatan dan stabilitas kendaraan saat melaju kencang (pada mobil Jepang) diganti dengan plat yang lebih tipis, lebih gêmbrèng, dan tak terlalu kokoh. Bahan-bahan jok yang menjamin kenyamanan penumpang saat berkendaar jauh, pun dengan desain yang diriset untuk mengurangi kelelahan (pain) dibuat lebih sederhana. Sistem suspensi pun dibuat “apa adanya”. Untuk mengurangi biaya produksi sekaligus sistem suspensi canggih biasanya di-paten oleh satu pihak. Biaya pembelian paten ini bisa jadi menggunung dan harus ditanggung konsumen.

Kenapa sampai demikian? Semua orang butuh kendaraan Gan, namun tak semua orang punya duit lebih. Jadilah kemudian mobil Jepang dengan spesifikasi “rendah” untuk mengejar harga murah itu meraja penjualannya, karena lebih terjangkau. Meskipun naik mobil Jepang artinya lebih sering mengganti part – meski harganya murah meriah, lebih pegal-pegal di badan, dan bikin mabok penumpang.

Perbedaan spesifikasi yang tajam pada kelas yang sama ini juga yang “membuat bingung” pengguna kendaraan secara luas dalam mengkomparasi head-to-head. Sebuah Corolla atau Civic masuk di kategori compact-sedan, kategori yang sama dengan sebuah Mercedes-Benz Klasse-C atau BMW Serie 3. Pun dengan Honda Accord atau Camry yang harusnya head-to-head dengan BMW Serie 5 atau MB Klasse-E.

Namun, antara Corolla/Civic vs MB Klasse-C atau BMW Serie 3 atau Accord/Camry vs MB Klasse-E atau BMW Serie 5 punya spesifikasi yang luar biasa ekstrim perbedaannya. Mulai pilihan mesin yang jauh berbeda rentangnya sampai beragam opsional yang njeplak nggak samanya! Bandingkan sendiri kalau nggak percaya… Alhasil, sebuah BMW Serie 3 ato MB Klasse-C lebih head-to-head dengan Honda Accord atau Toyota Camry yang berkelas harusnya di atasnya!

Di cucian mobil, tempat cuci yang paham akan ketakutan dan menolak mentah-mentah jika diminta menyemprot kompartemen mesin BMW produksi tahun 1995. Namun mereka enjoy saja menyemprot habis kompartemen mesin Camry terbaru keluaran tahun dua ribu sepuluh ini!

Kenapa demikian? Beda teknologi tadi, yang kemudian berkonsekuensi beda penanganannya. Di BMW produksi tahun 1995, kompartemen mesinnya penuh dengan sensor-sensor dan perangkat elektrikal esensial lainnya. Di bawah tudung/tutup mesin (bukan kap mesin, tapi sebuah tutup yang langsung menempel ke kepala mesin) BMW bermesin V8 terurai maha-berantakan kabel-kabel entah untuk apa saja di sela-sela lingkar-lingkar pipa intake. Keberantakan inilah yang kemudian oleh insinyur BMW ditutup dengan tutup mesin yang membuatnya terkesan rapi dan sangar! Kondisi inilah yang kemudian membuat tempat cuci mobil menolak mentah-mentah jika ada kustomer yang minta kompartemen mesinnya dicuci. Cara membersihkannya tak lain adalah dengan salon/car-care detailing.

Entah bagaimana isi kompartemen mesin Camry terbaru, yang jelas mobil ini meski kreditnya belum lunas dan masih panjang, enjoy aja disemprot dengan high-pressure washer gitu. Ajib, kinclong dech…!

Teknolgi sederhana itu pula yang akhirnya membuat montir dengan “SDM Indonesia” bisa dan gampang mempelajari dan menguasai (mobil-mobil Jepang). Karena hanya cukup menguasai satu-dua ilmu saja, sebuah Kijang atau bahkan Corolla dan Corona langsung bisa teratasi apapun kendalanya.

Parts yang bermetalurgi kurang padat, ringkih, dan kepresisian yang “lebih sederhana” dibanding mobil aneh-aneh (Eropa) membuat pemilik kendaraan (Jepang) sering berbelanja parts. Dan karena keseringan ini menguras kantong, akibatnya banyak industri independen yang membuat parts dengan kualitas lebih sederhana lagi dengan harga yang jauh lebih drop, meski dengan kualitas yang sangat apa-adanya.

Bila dihitung sebenarnya konsumen rugi. Di bengkel resmi Toyota, harga parts bisa jadi lima kali lipat lebih mahal daripada bengkel di bawah pohon randu. Namun dengan harga tersebut, konsumen bisa mendapatkan umur teknis sepuluh kali lipat lebih panjang.

Belum efek berntainya jika menggunakan parts/suku cadang non-orisinal. Diganti satu item, karena item lain terkait yang mestinya juga harus diganti mesti tak rusak dan item ini tak turut diganti, jadilah item lainnya itu sengsara terkena beban kerja lebih/tak imbang. Item “temannya” yg si KW-nan tadi tak bekerja sempurna, alhasil item-item lainnya itu ikut berantakan kerjanya.

Pelan-pelan rusak dan mrèthèl-i satu per satulah kekuatan komponen itu mobil…

Ini yang tak mau dikompromi dengan produsen “mobil aneh-aneh”. Mereka maunya memaksa konsumennya memasang parts asli untuk kendaraannya. Mereka sadar bahwa harganya selangit. Namun, keselamatan dan kenyamanan tak bisa dikompromi. Nyawa unlimited harga dan nilainya. Dan mereka memilih tak peduli untuk urusan angka.

Benar juga. Sekarang bayangkan saat melaju dengan kecepatan sedang, tiba-tiba ada lubang tak besar namun sangat dalam yang tak Anda sadari, dan suspensi kendaraan Anda tak terlalu sempurnya untuk mengantisipasi hal demikian. Plus Anda sedang membawa si kecil yang sedang bermain ceria di dalam kendaraan. Jika kemudian mobil Anda oleng kemudian sampai terguling atau terpelanting, tak berguna sesal belakangan…

Tapi hei, itu memang sepenuhnya benar, baik secara teori maupun empirik. Namun sekali lagi, uang kan tak selalu ada di tangan? Baiklah, jika memang demikian, sudah harus ada kesadaran pada diri kita untuk bersedia, ikhlas, dan berilmu untuk “kendaraan sederhana Anda”. Anda harus lebih jeli untuk memperhatikan lubang yang kadang tersamar dan tak terlihat. Anda harus benar-benar melaju di bawah kecepatan rata-rata yang memungkinkan untuk melibas di rute jalan tersebut. Anda harus sadar dan ikhlas menjadi robot untuk memperhatikan setiap detail kendaraan Anda.

Ini guyon tapi ada benarnya, dengan mobil Jepang, sebenarnya kita akan “lebih berilmu”. Beda dengan nobil Eropa/sejenisnya yang tinggal pakai dan menyerahkan maintenance-nya ke bengkel. An sich! :))

***

WELL, belasan tahun teknologi canggih tersebut tersematkan hanya di mobil-mobil yang hanya mampu dibeli oleh pejabat korup pada zamannya atau oleh pengusaha besar yang membabat hutan (becanda! Pisss! :D) atau Pak Haji yang benar-benar punya sawah luas dan sapi melimpah, kini semua teknologi tersebut sudah semakin pesat berkembang.

Teknologi canggih pada belasan tahun silam sudah menjadi teknologi generik. Teknologi canggih tersebut sudah menjadi sangat sederhana. Bahkan Avanza/Xenia yang mobil sejuta umat pun sudah menggunakan sistem bleeding-valve untuk radiatornya. Rem-nya pun sudah disemati ABS meski hanya untuk tipe termahalnya saja.

Montir-montir “kampungan” pun sudah banyak yang naik kelas. Mereka sudah ngeh dengan komputer, alat paling pertama untuk mengecek kerusakan mobil aneh-aneh itu sebelum kemudian dilanjutkan dengan cek fisikal. Beberapa montir kemudian berani mengkhususkan diri menangani mobil aneh-aneh, karena populasi bekasnya sudah semakin melimpah dan menumpuk. Dan mengangani satu mobil aneh ini beromzet sama juga dengan mengani sepuluh mobil “biasa”.

Bahkan bukan cuma mobil aneh yang populasinya lumayan banyak. Mobil aneh yang lebih aneh, miskin populasi dan minim peminat pun ada saja bengkel independen yang bisa menanganinya. Anda berpikiran mungkin semacam Citroen atau mungkin Cadillac. Ternyata bukan cuma itu, semacam Daewoo pun masuk kategori super aneh di sini 😀 Mungkin super susahnya kalau sudah kena urusan suku cadang/parts yang tak tersedia. Namun inilah Indonesia, semua bisa diakal! Kami pernah menyaksikan sendiri, sebuah BMW Serie-3 berbodi mulus kinclong dan interior yang terawat plus indash-LCD monitor, ternyata salah satu injektornya sudah tersubtitusi dengan punya Mitsubishi! Sangaaar 😀 😀 😀

Dan pemilik serta mereka yang membutuhkan mobil-mobil aneh dengan teknologi yang jauh semakin melesat itu seudah berganti kendaraan ke seri yang lebih baru, atau seri sama yang keluaran terbaru. Mobil-mobil canggih berumur belasan tahun mereka kemudian dijualah.

Dan berhubung “teknologinya” masih lebih rumit dibanding mobil Jepang setara, harga parts masih mahal dan pilihan parts KW tak terlalu banyak (karena populasi mobil aneh-aneh gini nggak banyak sehingga produsen parts KW juga tak terlalu bergairah untuk memproduksi part tiruannya), serta pajak yang relatif di atas mobil selevel/sekelas dari Jepang (berhubung dulu harga barunya juga jauuuh lebih mahal), alhasil permintaan terhadap mobil seken aneh-aneh gini tetap rendah dibanding mobil sekelas dari Jepang. Karena permintaan rendah, harga jualnya juga super-drop demi biar segera laku terjual.

Segera? Ada memang yang sehari langsung terjual. Namun kebanyakan perlu waktu bulanan untuk menjual mobil aneh-aneh berteknologi tinggi begini. Bahkan ada yang sampai ganti umur tahun belum laku juga! Sedihnya…

Akhirnya, seperti kami juga yang baru bisa membelinya sekarang, karena rendahnya harga jual tadi. Sebuah BMW yang harga aslinya sampai sekitar 8-90.000an dollar Amerika, kini bisa dibeli dengan harga yang cuma sepersepuluhnya saja. Dengan kenyamanan yang masih “sama” :))

Namun “mobil sederhana” buatan Jepang ternyata justru stabil pasaran sekennya. Kenapa? Biasanya karena Jepang memaksa membuat mobil dengan kapasitas banyak meski unsur keselamatannya nol total! Indikatornya adalah: tak adanya berkas uji keselamatan/uji tabrakan resmi!

Bukti fisik paling gampang, orang Eropa “tak mau” meletakkan penumpang sampai di belakangnya roda belakang. Urusannya adalah stabilitas kendaraan dan kenyamanan penumpang itu sendiri. Mobil Jepang, di belakang roda pun muat sampai empat orang! Ajaib!

Inilah -mobil Jepang yg “mampu bekerja melebihi kapasitasnya”- yg kemudian disukai masyarakat. Sebuah Kijang berharga jual sama bahkan lebih mahal dibanding sedan Honda Accord Maestro berteknologi lebh canggih dan lebih nyaman produksi tahun yang sama. Bahkan Kijang tahun 2000 berharga jual sama dengan sebuah BMW tahun sama yang punya teknologi tujuh kali lipat lebih canggih, bahkan mungkin tujuh puluh kali lipat lebih canggih!

Sebuah anomali memang. Namun preferensi masyarakat inilah yang kemudian memacu hukum suply-demand mengatur pasar. Apa mau dikata, inilah keadaannya.

Dan akhirnya kami memilih sebuah BMW, dengan tetap isi kantong kami yang kéré :))

***

DATA BASE BENGKEL DAN SUPLIER SUKU-CADANG (SPARE-PARTS)
Silakan langsung menuju ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705/doc/323714977713467/

CMIIW & IMHO
– Freema H. Widiasena
Catatan ini pernah saya tulis pada tanggal 24 Desember 2010 pukul 11:19

—————————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/