Belajar Menjadi Orang Tua

Tiba-tiba tetangga yg kebetulan pnya cucu sebesar Aleef curhat.

“Pinginnya cucuku aku minta tinggal di sini saja. Biar sekolah di sini, dari TK-SD-SMP, kalo perlu sampe SMA. Tapi ya gimana, mesti kalah sama yg punya. Cucu ke sini cuma kalo pas libur aja. Kangennya itu lo yg nggak tahan…”

Kami berdoa, iya Pak… mungkin nanti kalo kami sudah tua juga akan merasa yg sama. Semoga cucunya sehat dan pintar selalu ya Pak! Ameen…

Aleef Rahman kecil ^_^

Itu sebuah posting kami. Alhamdulillah, sharing kejadian riil ini mendapat respon positif dari beberapa teman. Itu sedikit gambaran peristiwa umum di sekitar kita, yg mana betapa bahagianya si cucu saat dimanja oleh kakek/neneknya 😀

Sebenarnya tak ada yg salah kalo kakek/nenek manjakan putune. Kita blom pernah jadi mereka, so mungkin kita hanya memandang dari angle dan point of view kita.

Hampir semua kakek/nenek selalu demikian terhadap cucunya. Saat si cucu (anak kita) melakukan ‘kenakalan’ sama persis dengan apa yg kita lakukan saat kita kecil, mereka tak pernah memarahi. Beda dengan kita anaknya ‘dulu’. Nakal sedikit saja dah dibentak.

Ini bukan cenderung memanjakan sebenarnya. Karena mereka, ortu kita yg dah jadi kakek/nenek, memang ‘tidak berkewajiban’ mendidik cucunya (anak kita). Kitalah yg memegang tampuk amanah dari-Nya untuk bertanggung jawab dan mendidik anak-anak kita sampai kelak mereka besar dan lepas bisa hidup sendiri.

Kalo kakek/nenek cenderung ‘memanjakan’ cucu2nya, itu tak lebih dari siklus hidup normal saja. Saat mereka (dan kita semua) anak-anak, kita hidup dalam kemanjaan. Hati selalu riang. Pikiran selalu senang.

Hingga kemudian kita semua besar. Hidup mulai penuh dengan ‘persoalan’. Penuh dengan tugas, beban, tanggung jawab, pekerjaan, problematika, dst. Inilah fasa hidup sebenar-benarnya hidup.

Inilah fasa kita semua menjalani ujian. Hingga akhirnya semua examination selesai. Ada yg selesai dengan dipanggilnya (meninggal) saat belum besar, ada yg selesai di tengah perjalanan, dan ada yg selesai karena tua. (Dan bahkan ada yg tak pernah selesai atau tak pernah lulus ujian. Namun semuanya ini tergantung Sang Penilai Yg Maha Kuasa).

Saat tua, examination telah kelar dijalani. Hidup mereka telah purna dari segala tugas: membesarkan anakknya, melakukan tugas-tugas ‘kehidupan’. Mereka telah pensiun. Tinggal menunggu waktu untuk ‘berbuka puasa’ dan menghadap Sang Penciptanya.

Inilah kenapa akhirnya siklus mereka, para kakek/nenek seolah low-of-deminizing return. Or antiklimaks. Or kembali ke nol. Mereka akhirnya pas dan nyambung dengan cucunya. Kami memandangnya demikian saja. Mudah2an memang adanya sesederhana ini.

So, lantas apa ‘tugas terakhir’ para pinisepuh itu? Tak lain dan tak bukan adalah menjadi counselor dan suplier pengalaman bagi kita semua, yg masih muda dan miskin pengalaman. Apalagi bila counseling ini datang dari orang tua kita.

Saat kita merasa begini-begitu dengan hidup, mereka telah menjalani, mengetahui, dan memahami apa yg kita pikirkan. Saat kita merasa gamang atau malah sebaliknya: terlalu yakin dengan keputusan dan langkah kehidupan, mereka orang tua kita sudah pernah meng-test case-nya secara riil dan nyata.

Saat kita akan, sedang akan, dan akan menjalani hidup dan kehidupan kita mendatang, mereka para pinisepuh sudah melampaui apa yg belum pernah kita alami, kita lakukan, dan kita hadapi.

So, ini semua bermakna indah: turuti nasihat baik orang tuamu. Secuilpun, setitikpun, setetespun, mereka tak akan pernah menjerumuskan kita, anak-anaknya. Bahkan, kitalah yg cenderung banyak menentang apa yg sebenarnya sudah dirambukan oleh mereka. Dengan seribu satu alasan.

ORANG tua bukan kepala kita. Orang tua hanya pelesat anak panah kita semua, anak-anaknya. Kita semualah yg berhak (dan bahkan wajib) menjalani kehidupan kita masing-masing, kehidupan kita sendiri-sendiri. Orang tua hanyalah bertugas dan berkewajiban melesatkan anak panah, si anaknya, ke arah, jalan, dan tujuan yg benar.

So, saat kita (sedang belajar) menjadi orang tua, tirulah prestasi mereka. Tirulah saat mereka sedemikian menjadi orang tersabar sedunia, orang terpemurah sedunia, orang termencintai kita sedunia, orang terikhlas untuk kita sedunia, orang terberkorban hanya untuk kita anak-anaknya dan hanya demikian adanya.

Saat kita (sedang atau sedang akan atau akan sedang) menjadi orang tua, tirulah untuk melesatkan anak-anak kita ke jalan yg sama sekali benar tanpa keraguan.

Sabarlah sesabar-sabarnya terhadap apa pun polah dan tingkah anak kita. Toh mereka juga masih anak-anak.

Lakukan diplomasi tingkat tinggi, super tinggi dengan anak-anak kita dalam hal mendidik mereka, namun dengan ‘badan yg sejajar dengan anak-anak kita’ (bentuk teknis perwujudan kiasan ini adalah: saat memarahi anak, kita harus menekuk lutut sehingga kepala kita sejajar dengan anak kita).

Namun, jangan pernah ragu untuk menampar anak kita saat mereka sampai menolak sholat! Kita akan gagal jadi orang tua jika sampai membiarkan hal ini terjadi! Sepahit apapun hati ini untuk melakukannya…

Orang tua adalah rambu-rambu. Rambu-rambu dipasang sepenuhnya hanya untuk keselamatan dan kelancaran kehidupan kita (anak-anaknya) dan anak-anak kita (kala kita jadi orang tua).

Mari, kita jadi rambu yg terang dan benar untuk anak-anak. Jangan pernah jadi rambu yg menyesatkan.

Sebab, setelah semua perjalanan (hendak) selesai, di ujung jalan, saat kita menjadi kakek/nenek, kita akan kembali bertemu dengan penerus kehidupan kita. Ialah anak-cucu keturunan kita. Bila ini terjadi, berarti sederhana saja: kehidupan terus tersambung dan bersambung.

Sampai akhirnya kita harus berpisah kepada dunia, kepada anak-anak kita, kepada cucu-cucu kita.

Saat kita harus mengenakan baju putih dan menyeberangi jembatan menuju nur-Nya. Allahu Akbar, Insya Allah… Aameen!

– Kepada semua orang tua muda, kalo ada rizki, sambangilah kakek/neneknya anak-anak kita. Kalau keuangan lagi ketat jangan memaksakan diri. At least beri mereka (kakek/nenek si kecil kita) kabar, bahwa cucunya sehat-sehat saja dan baik-baik saja. Mintakan doa kepada mereka untuk cucunya, agar tumbuh besar dengan selamat dan senantiasa dalam lindungan-Nya.

– Kepada yg belum dan masih menunggu menjadi orang tua: tetaplah semangat dan berusaha. Doa kami untuk Anda semua. Dan hanyalah satu untuk Anda mintai agar segera menjadi orang tua: Tuhan! Bukan yg lain! Pun lakukan ikhtiar untuk mengimbangi dan mendorong permintaan ini…

Allahualam bisawab…

Kediri, 23 September 2010
Deasy & Freema,
– masih bau kencur untuk ‘menjadi orang tua’.