Di Pelintasan Kereta Api, Kami Nyaris Mati

Kami pernah nyaris tewas. Jam 3 dini hari… Kami berkendara, melalui jalanan di pinggiran kota Kediri.

Dini hari jam segitu kami berangkat dari Kediri hendak ke Bojonegoro, ada mantenan temen siang hari nantinya.

Bapaknya Aleef Rahman fokus nyetir dan si kecil bobok merebah di jok tengah.

Pagi yang duuuingin, kami tutup semua kaca, nyisain sedikit centi aja di pintu supir/penumpang biar ada udara masuk.

Pas itu hendak melintasi lintasan kereta api yang sebenarnya berpalang dan berpenjaga. Pas kami hendak melintas, palang masih terbuka, tanda tak ada kereta yang lewat.

Karena palang pintu masih terbuka, bapaknya Aleef Rahman ngerem dikit cuman sekedar biar mobil gak bumpy karena nerjang rel yg gak halus potongan aspalnya itu.

Tepat saat dia ngerem perlahan mau nerjang rel, mendadak moncong lokomotif dari arah kanan udah tepat berada di depan kami!

Bapaknya Rahman ngerem sementok-mentoknya. Saya hanya bisa berteriak keras sambil mencengkeram kuat lengam kirinya. Tamatlah riwayat kami…

Si kecil sampe nggelundung dari tidurnya. Mobil berhasil berhenti.

Moncong mobil rasanya cuman beberapa centi dari lokomotif yang cuek terus melaju. Dari dalam kabin, kami serasa tak bisa melihat atap lokomotif/kereta, saking dekatnya jarak kami.

Untung belom sampe kesamber. Allahu Akbar…

Kami cuman menggos-menggos setelahnya, mobil masih berhenti di tengah jalan yang sepi. Saya tenangkan si kecil yg nangis karena kaget. Kami semua minum air putih.

Setelah mengucap banyak doa dan menenangkan hati, kami melanjutkan perjalanan.

Entah kenapa, penjaga tak menutup pintu di dini hari itu. Entah masih tidur, entah sengaja dibiarkan karena jalanan itu memang (rata-rata) sepi banget. Pastinya palang pintu tak tertutup ketika kereta lewat dini hari itu.

Salahnya lagi, di sisi kanan kami, pandangan tertutup oleh: pos penjaga pelintasan, kemudian ada warung yang nempel sama pos tsb, dilanjutkan pagar rumah penduduk yg juga nempel warung.

Dan dengan sorot lampu lokomotif yang justru jauh banget sorotnya, makanya kami tak melihat sorot lampunya. Dan dengan pagi yang duuuingin, lebih dingin dari AC mobil yang dingin, serta kaca-kaca yang (nyaris) tertutup rapat semua, mungkin jadinya kami tak mendengar suara lokomotif.

Sejak saat itu, biar sepi kayak gimana, kalo lewat pelintasan kereta api, kami selalu noleh kiri-kanan.

Tuhan memberi peringatan kepada kami dengan cara yang luar biasa.

Allahu Ahad…

– Deasy Ibune Rahman

Advertisements